Sabtu, 20 April 2019

Semua Pertandingan Perempat final Piala Indonesia Digelar Sore, Ini Jadwal Lengkapnya



Turnamen Piala Indonesia akan segera menggelar laga perempatfinal. Delapan tim kontestan akan saling beradu untuk memperebutkan empat tiket ke babak semifinal.

Dikutip dari indosport.com (18/4/2019), usai melakukan undian, PSSI kini resmi merilis jadwal pertandingan perempatfinal Piala Indonesia. Hasilnya, rata-rata jadwal perempatfinal ini akan digelar pada sore hari WIB.


Hasil undian perempatfinal Piala Indonesia (instagram.com/pialaindonesiaid)
PSSI sendiri menyusun jadwal pertandingan ini dengan mempertimbangkan keikutsertaan PSM Makassar dan Persija Jakarta di ajang AFC Cup 2019, serta kebutuhan broadcast televisi.

Delapan tim yang jadi kontestan di babak ini yakni Bhayangkara FC, Persebaya Surabaya, Bali United, Persib Bandung, Madura United, Persija Jakarta, Borneo FC, dan PSM Makassar.

Laga perempatfinal sendiri akan digelar dua leg dengan sistem kandang dan tandang, seperti pada babak 16 besar. Duel Borneo FC versus Persib Bandung menjadi laga pembuka pada babak ini.

Sesuai jadwal, Pesut Etam lebih dahulu menjamu Maung Bandung di Stadion Segiri, Samarinda, pada Rabu (24/4/2019). Lalu, Persib giliran menjamu Borneo di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, pada Senin (29/4/2019).


Sedang laga leg pertama antara Persebaya Surabaya melawan Madura United akan digelar di Stadion GBT, Kamis (25/4/2019). Madura United kemudian jadi tuan rumah di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan, Selasa (30/4/2019) mendatang.

Sementara leg pertama antara Bali United versus Persija Jakarta, akan berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, Jumat (26/4/2019). Persija berkesempatan jadi tuan rumah di Stadion Patriot Candrabhaga, pada Sabtu (4/5/2019).

Terakhir, laga Bhayangkara FC menjamu PSM Makassar akan digelar di Stadion PTIK, Jakarta, pada Sabtu (27/04/2019). Tim Juku Eja giliran bertindak sebagai tuan rumah di Stadion Mattoangin, Makassar, pada Jumat (3/5/2019).

Berikut ini jadwal lengkap perempatfinal Piala Indonesia:

Leg Pertama

Rabu, 24 April 2019

15.30 WIB - Borneo FC vs Persib Bandung

Kamis, 25 April 2019

15.30 WIB - Persebaya vs Madura United

Jumat, 26 April 2019

15.30 WIB - Bali United vs Persija Jakarta

Sabtu, 27 April 2019

15.30 WIB - Bhayangkara FC vs PSM Makassar

Leg Kedua

Senin, 29 April 2019

15.30 WIB: Persib Bandung vs Borneo FC

Selasa, 30 April 2019

15.30 WIB - Madura United vs Persebaya

Jumat, 3 Mei 2019

15.30 WIB: PSM Makassar vs Bhayangkara FC

Sabtu, 4 Mei 2019

15.30 WIB - Persija Jakarta vs Bali United

Pindad APS-1, Cikal Bakal Lahirnya Panser Anoa


Panser APS1

Bercerita mengenai panser beroda 6X6 Anoa buatan Pindad, pastinya banyak orang yang sudah familiar dengan nama ini, baik itu kelompok pecinta alutsista maupun komunitas umum. Akan tetapi, bisa jadi juga banyak yang belum tahu kalau Anoa bukanlah panser pertama buatan pabrik senjata yang berada di Kiara Condong, Bandung tersebut.

Jauh hari, tepatnya tahun 2006, Divisi Kendaraan Khusus Pindad telah mulai merintisnya dengan melahirkan kendaraan ‘angkut personel sedang’ atau disingkat APS. Sobat AR, proyek penggarapan kendaraan lapis baja angkut personel (APC) pertama buatan asli dalam negeri ini digarap Pindad bermitra dengan lembaga riset BPPT (Badan Pengkajian & Penerapan Teknologi).

Purwarupa panser APS (dikenal juga sebagai APS-1) dibangun menggunakan sasis truk Perkasa buatan pabrik Wahana Perkasa Auto Jaya (PT Texmaco), Subang, Jawa Barat. Panser APS-1 dapat dimuati 13 orang prajurit di mana pengendara duduk di kabin terpisah sebelah kanan tepat berada di samping rumah mesin.

Kendaraan berbobot tempur hampir 11 ton ini digerakkan menggunakan mesin diesel bawaan truk Perkasa yakni Steyr WD 612 berkapasitas 6.600 cc yang menghasilkan daya 220 ps. Mesin disandingkan dengan transmisi manual, 6 maju dan 1 mundur. Kecepatan maksimum di jalan rata mencapai 120 km/jam.

Untuk kenyamanan saat berkendara, APS-1 telah dilengkapi power steering serta pendingin udara (AC). APS-1 memiliki ground clearance41 cm sehingga cukup tangkas untuk melintasi jalan bergelombang (off-road) dan radius putarnya 8 m. Panser ini sanggup berjalan pada tanjakan 60 derajat dan kemiringan jalan 30 derajat.

Panser APS1

Untuk proteksi terhadap balistik, APS-1 dibekali baju zirah dengan ketebalan 8 mm secara menyeluruh. Artinya, bisa menangani serbuan pelor senapan ringan kaliber 5,56 mm atau 7,62 mm. Namun rancang bangun APS-1 belum memiliki kemampuan untuk bertahan dari ranjau darat.

Sebagai senjata bela diri dan untuk bertempur, tersedia dudukan senjata di atap dengan pilihan berupa senapan mesin kaliber 7,62 mm, 12,7 mm, atau AGL 40. Tersedia juga sembilan lubang tembak untuk pasukan dari dalam kabin dan enam tabung peluncur granat asap kaliber 66 mm.

Sobat AR, purwarupa APS-1 pertama kali tampil di hadapan publik saat Pindad memboyongnya pada ajang pameran teknologi nasional bertajuk Ritech Expo 2016 yang berlangsung pada 7-15 Agustus 2006 di Arena PRJ (JIExpo) Kemayoran, Jakarta Pusat.

Panser APS2

Selanjutnya, desain APS-1 kembali disempurnakan oleh Pindad dan BPPT dengan melahirkan varian APS-1 V1 (dikenal juga sebagai APS-2).

Tampilan utama yang terlihat berubah adalah posisi mesin yang digeser dari samping pengemudi ke bagian tengah. Sehingga, komandan dan pengendara bisa duduk bersebelahan yang juga dapat membantu meningkatkan kesadaran situasional bagi pengendara. Sepintas desain APS-2 telah menyerupai panser Anoa 6×6.

Penampakan perdana versi APS-2 di hadapan umum yakni saat ikut meramaikan PTI 2006 (Pameran Teknologi & Industri) di Plaza Parkir Timur Senayan, 19-22 September 2006.

Sirkuit Mandalika Lombok Gelar MotoGP Selama 5 Musim Mulai 2021, Biayanya...


Foto udara pada 23 Februari 2019 menunjukkan proyek pengembangan pesisir Mandalika yang diusulkan menjadi lokasi balapan sepeda motor MotoGP dengan sirkuit jalan yang dibangun khusus, di Mandalika, selatan Lombok. (ARSYAD ALI/AFP)

Sirkuit Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), direncanakan akan menggelar ajang MotoGP selama lima musim, dimulai dari 2021.

Per musimnya, biaya yang harus dibayarkan ke promotor MotoGP, Dorna, adalah sekitar 9 juta euro atau setara sekitar Rp 143 miliar.


Proyek pengembangan pesisir Mandalika yang diusulkan menjadi lokasi balapan MotoGP di Mandalika, selatan Lombok, 23 Februari 2019. Penantian Indonesia selama lebih dari 2 dekade untuk kembali menggelar balapan MotoGP akhirnya terealisasi. (ARSYAD ALI/AFP)

Direktur Utama PT Pengembangan Pariwisata Indonesia Persero/Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Abdulbar M Mansyur, mengatakan, biaya Rp 143 miliar sudah termasuk lisensi, hak cipta, dan biaya penyelenggaraan.

"Kita tahunya sudah beres. Mereka (Dorna) akan mendatangkan timnya sendiri semua dari situ," kata Abdulbar di Kantor Kemenpora, Jakarta, Senin (25/2/2019).

Proyek pengembangan pesisir Mandalika yang diusulkan menjadi lokasi balapan MotoGP di Mandalika, selatan Lombok, 23 Februari 2019. Lokasi MotoGP di Lombok diharapkan dapat menghidupkan kembali ekonomi pulau itu yang sempat dilanda gempa. (ARSYAD ALI/AFP)

Menurut Abdulbar, penyelenggaraan MotoGP tidak menggunakan sistem profit sharing. Negara yang menjadi tuan rumah punya hak untuk beberapa hal, di antaranya broadcasting right dan merchandise right.


Foto udara pada 23 Februari 2019 menunjukkan proyek pengembangan pesisir Mandalika yang diusulkan menjadi lokasi balapan sepeda motor MotoGP dengan sirkuit jalan yang dibangun khusus, di Mandalika, selatan Lombok. (ARSYAD ALI/AFP)

Abdulbar menyebut Sirkuit Mandalika direncanakan mulai dibangun September atau Oktober 2019. Konsepnya adalah sirkuit jalanan.

Namun, dia mengaku belum mengetahui pasti biaya pembangunannya. Sebab, biaya tersebut menjadi tanggungan dari Vinci Construction Grands Projects (VCGP), perusahaan asal Perancis yang jadi investor Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika.

Proyek pengembangan pesisir Mandalika yang diusulkan menjadi lokasi balapan MotoGP di Mandalika, selatan Lombok, 23 Februari 2019. Penantian Indonesia selama lebih dari 2 dekade untuk kembali menggelar balapan MotoGP akhirnya terealisasi. (ARSYAD ALI/AFP)

"Survei masih berjalan. Saya belum tahu angkanya. Itu kan domainnya investor saya. Kami kan hanya pemilik tanah dan juga yang mempunyai branding license," ujar Abdulbar.

"Jadi, kita yang mengadakan, tetapi yang membangun budget-nya dari Vinci," ujarnya.

BCS (Brigita Curva Sud) vs Elephant Army


Brigata Curva Sud

Suporter sepakbola di Indonesia ada banyak sekali. Dari setiap tim yang juga mewakili nama daerah, tentu saja memiliki suporter fanatik, mulai dari Aceh hingga Papua.

Basis-basis suporter di Indonesia juga tidak kalah dengan negara-negara Eropa dan Amerika Latin.

Dari sekian banyak suporter sepakbola di Indonesia, ada satu suporter yang agaknya mencolok dibandingkan dengan suporter lainnya di tanah air.

Namanya adalah BSC (Brigita Curva Sud), yaitu suporter fanatik asal PSS Sleman, Yogyakarta, yang merupakan rival abadi PSIM.

Bicara tentang BSC tentu tak bisa lepas dari chant dan nyanyian untuk mendukung PSS Sleman, serta koreografinya yang memukau.

Bahkan Copa90, media asal Italia menobatkan BCS sebagai suporter terbaik se-Asia, mengalahkan Urawa Boys (Japang), Frente Tricolor (Korea Selatan), hingga Bangal Bregade (India).

Copa90 juga berujar kalau BCS masih lebih baik dari suporter-suporter sepakbola di Italia.

Nah, kali ini penulis mencoba mengajak pembaca sekalian untuk membandingkan aksi koreografi BCS dengan suporter fanatik milik Pahang FA, yaitu Elephant Army.

Ya, Elephant Army sempat menjadi viral setelah video-video koreografinya diunggah di situs youtube.

Banyak nettizen yang membandingkan antara kehebatan aksi kedua suporter tersebut.

Berikut cuplikannya :



BCSxPSS

Kamis, 18 April 2019

Tragedi Heysel 1985


Tragedi Heysel - merupakan salah satu noda dalam sejarah sepakbola Eropa yang tak akan terlupakan. Pada saat, itu, puluhan suporter meninggal dan ratusan luka akibat insiden yang terjadi di Belgia ini.


Tragedi Heysel atau yang lebih populer dengan nama Heysel Stadium Disaster terjadi pada 29 Mei 1985. Saat itu, tembok stadion runtuh dan menimpa para penggemar yang hadir langsung untuk menikmati laga final Piala Champions antara Juventus dan Liverpool sesaat sebelum peluit tanda pertandingan dimulai. Sebanyak 39 orang dikonfirmasi meninggal dan 600 lebih lainnya mengalami cidera.

Awal mula tragedi Heysel

Pada Mei 1985, Liverpool sedang mempertahankan gelar Liga Champions Eropa setelah menang adu penalti dari Roma pada musim sebelumnya. Sementara itu, lawannya di puncak ajang ini ialah tim Italia yang melaju tanpa sekalipun menelan kekalahan, Juventus, yang juga mengangkat trofi dua tahun berturut-turut sebelum Liverpool di ajang yang sama. Kala itu, kedua tim diisi dengan pesepakbola yang saat ini familiar dengan sebutan legenda bagi negara asal klub masing-masing seperti Michel Platini dan Kenny Dalgish.

Meskipun disebut sebagai stadion utama negara Belgia dan terletak di tengah kota Brussels, Heysel tidak berada dalam kondisi yang cukup bagus dalam menopang puluhan ribu penonton yang didominasi oleh fans berkebangsaan Negara Pizza ini.

Berusia 55 tahun saat laga final diselenggarakan, Heysel Stadium tidak mendapat perhatian selama beberapa tahun dan beberapa bagian dari gedung tersebut terlihat berceceran. Bahkan, menurut France Football Magazine, ratusan suporter tanpa tiket menerobos dengan menjebol tembok stadion. Menurut laporan yang sama, pemain dan penggemar Liverpool terkejut dengan lokasi yang memprihatinkan. Malah ada yang menyamakannya dengan tempat pembuangan sampah.

Laporan The Times menyatakan bahwa Presiden Juventus, Giampiero Boniperti, dan CEO Liverpool, Peter Robinson, mengajukan usulan kepada UEFA untuk berpindah ke lokasi yang lebih layak. Apalagi kedua kesebelasan merupakan tim elit dengan suporter yang melimpah ruah. Namun, menurut La Republica, UEFA menolak usulan tersebut dan tetap menjalankan laga sesuai dengan rencana sebelumnya.

Wilayah sisi kiri dan kanan lapangan merupakan tempat bagi para penonton netral asal Belgia sendiri. Sementara itu, di belakang gawang sebelah timur merupakan tempat bagi suporter Juventus yang dibagi menjadi tiga wilayah, yakni wilayah O, M dan N. Di seberangnya, gawang sebelah barat merupakan lokasi suporter Liverpool yang juga dibagi menjadi tiga seksi, yakni X, Y, dan Z.

Namun pada kenyataannya, tiket untuk seksi Z dijual oleh agen. Sialnya, tiket tersebut tidak dijual kepada fans Liverpool, melainkan pada warga lokal Belgia yang lebih condong mendukung Juventus. Ini tak lain karena Belgia punya komunitas penduduk Italia yang tak kalah banyak.

Klimaks malapetaka Tragedi Heysel


Sekitar pukul 19.00 waktu setempat, satu jam sebelum kick off, kemelut mulai terlihat dari kejauhan. Pendukung Liverpool pada seksi Y dan Juventus pada seksi Z hanya terpisah oleh tangga dengan lebar beberapa meter dan rantai temporer sebagai batasnya. Saat itu, para suporter bertukar lemparan batu reruntuhan bangunan dan jarak di antara mereka semakin melebar mengingat mereka harus menghindari batu yang beterbangan.

Menjelang peluit pertandingan tanda dimulainya pertandingan, aktivitas lempar melempar batu ini semakin intens. Sejumlah kelompok dari kedua belah pihak mulai menyebrangi pembatas antara seksi Y dan Z di mana para pihak berwajib kewalahan.

Para penonton yang enggan turut serta dalam bentrokan tersebut mulai memadati sisi seksi dan menekan tembok stadion dalam rangka mengungsi dari batu yang lalu-lalang. Tak kuat menahan tekanan, bagian bawah tembok mulai runtuh dan menimpa para suporter yang menepi.

Catatan 39 kematian bukan murni disebabkan oleh tembok yang runtuh. Malah, sebagian dari para suporter berhasil keluar dari stadion melalui reruntuhan. Kebanyakan dari korban meregang nyawa saat terjepit oleh kerumunan penonton yang lain sebelum keruntuhan terjadi.

Suasana semakin keruh saat suporter dari seksi seberang, M, N, dan O, berhamburan keluar untuk memberi bantuan kepada rekan sejawatnya di seksi Z. Beruntung, pihak berwenang berhasil menggagalkan aksi suporter tersebut. Malapetaka ini berlangsung selama hampir dua jam lamanya.

Pertandingan saat itu ditunda sampai kerusuhan mereda. Setelah kedua kapten dari masing-masing klub membujuk para penonton, peluit menit pertama pun dibunyikan. Pertandingan berlangsung dengan khidmat dengan skor akhir 0-1 untuk kemenangan Juventus berkat tendangan penalti dari Michel Platini.

Larangan bermain bagi klub Inggris

Pasca penyelidikan dari berbagai pihak berwenang terkait, UEFA memutuskan bahwa klub manapun yang berasal dari kerajaan Inggris dilarang ikut serta dalam Liga Champions dan UEFA Cup, kecuali Liverpool yang mendapat enam tahun larangan bermain.

Sejak 1977 hingga 1984, klub-klub Inggris berhasil meraih enam dari delapan Piala Eropa dan larangan ini menjadi sebuah pecut tajam bagi sepakbola Inggris dan dunia olahraga secara keseluruhan.

Ketika larangan bermain diumumkan, Perdana Menteri Inggris, Margaret Tatcher, sepenuhnya mendukung segala keputusan yang telah dibuat dengan mengatakan, “Kita harus membersihkan olahraga ini dari aksi kekerasan di rumah kita sendiri kemudian mungkin kita bisa kembali  melanglang buana seperti sedia kala.”

Hukuman atas malapetaka yang terjadi tidak hanya dalam bentuk larangan bermain, namun juga tiga tahun menginap di hotel prodeo bagi 14 suporter Liverpool yang dianggap menjadi biang keladi dari kerusuhan tersebut.

CATATAN REDAKSI: SETELAH TRAGEDI HEYSEL, TIDAK ADA PERUBAHAN BESAR PADA STRUKTUR STADION DI INGGRIS. REFORMASI STADION BARU TERJADI USAI TERBITNYA TAYLOR REPORT SETELAH TRAGEDI HILLSBOROUGH PADA 1989 YANG LAGI-LAGI MELIBATKAN LIVERPOOL

Rabu, 17 April 2019

Evolusi Motor Valentino Rossi 1996 - 2019


Motor Valentino Rossi Dari Masa ke Masa



The Doctor


Aprilia RS125R 1996

Aprilia RS125R 1997

Aprilia RSW250 1998

Aprilia RSW 250 1999

Honda NSR 500 2000

Honda NSR 500 2001

Honda RC211V 2002

Honda RC211V 2003

Yamaha YZR M1 2004

Yamaha YZR M1 2005

Yamaha YZR M 1 2006

Yamaha YZR M1 2007

Yamaha YZR M1 2008

Yamaha YZR M1 2009


All World Champions

Yamaha YZR M1 2010

Ducati Desmosedisi 2011

Ducati Desmosedisi 2012

Yamaha YZR M1 2013

Yamaha  YZR M1 2014

Yamaha YZR M1 2015


Yamaha YZR M1 2016

Yamaha YZR M1 2017

Yamaha YZR M1 2018

Yamaha YZR M1 2019

1996 - 2019

The Legend Of Motogp